Selasa, 04 Agustus 2015

Home » » 4 jenis radang

4 jenis radang

Sendi merupakan daerah persambungan antar tulang. Sendi yang sehat memungkinkan kita bergerak secara bebas dan aktif. Pada kondisi tertentu, sendi dapat mengalami peradangan atau yang secara medis dikenal dengan nama arthritis. Hingga kini, terdapat sekitar 200 jenis arthritis yang diketahui. Artritis dapat dialami oleh setiap orang dari berbagai usia, jenis kelamin, dan ras.
Secara umum gejala yang timbul pada artritis hampir serupa, yakni sendi yang nyeri, bengkak, kaku, disertai penurunan rentang gerak anggota tubuh. Akibatnya tubuh tidak dapat bergerak bebas dan mengalami kesulitan dalam melakukan kegiatan sehari-hari, seperti berjalan kaki atau naik tangga. Gejala radang sendi tersebut dapat hilang timbul, dalam derajat ringan, sedang, hingga berat.
Dari beragam jenis arthritis, 4 tipe berikut merupakan jenis arthritis yang paling sering dialami, antara lain:
1. Osteoarthritis
Merupakan bentuk arthritis yang paling sering dijumpai, terutama pada orang tua di atas 60 tahun. Seiring dengan proses penuaan, kartilago (tulang rawan) yang merupakan bantalan sendi akan menipis sehingga tulang akan saling bertemu atau bergesekkan, lalu memicu rasa nyeri, bengkak, dan kaku.
Pada osteoarthritis derajat ringan dan sedang.

Fokus penanganan osteoarthritis:
  • Menjaga kebugaran tubuh, dengan melakukan aktivitas fisik rutin yang diimbangi dengan istirahat
  • Membantu penderita melakukan kegiatan fisik, dengan alat bantu ortosis.
  • Menguatkan otot di sekitar sendi agar lebih kuat menopang beban tubuh
  • Menjaga berat badan tetap ideal.
  • Mengurangi peradangan dan nyeri, dengan obat golongan anti-inflamasi, steroid intraartikular, atau dengan kompres hangat (untuk mengurangi ketegangan otot) dan dingin (mengurangi radang dan nyeri), serta menghindari gerakan repetitif pada satu sendi.
Pada osteoarthritis derajat berat, umumnya kegiatan fisik amat terbatas dan terjadi penurunan kualitas hidup. Prinsip-prinsip penanganan yang telah disebutkan di atas dapat membantu meringankan gejala, namun sering kali diperlukan penggantian sendi tubuh melalui operasi.
Pengurangan risiko osteoartritis dapat dilakukan sejak dini, yaitu dengan menjaga tubuh tetap aktif, menjaga berat badan ideal, serta menghindari cedera dan gerakan repetitif yang berlebihan pada satu sendi.
2. Rheumatoid Arthritis
Sistem imun tubuh berperan melindungi tubuh dari hal-hal asing yang bersifat merusak, melalui proses peradangan di mana terjadi perlawanan terhadap zat-zat asing tersebut. Namun pada kasus rheumatoid arthritis, proses peradangan tidak terjadi di tempat yang seharusnya dan justru menyerang sendi dan menyebabkan peradangan pada sendi, memicu erosi dan kerusakan pada organ tubuh lainnya. Hal ini merupakan proses autoimun, yang diyakini dipicu oleh kombinasi faktor genetik dan faktor lingkungan. Salah satu faktor lingkungan yang dimaksud adalah merokok.
Pada kasus autoimun ini, dibutuhkan deteksi dini dan terapi yang agresif agar tidak terjadi kerusakan lebih lanjut. Penanganannya ditujukan untuk menekan proses peradangan dengan golongan obat antiinflamasi non-steroid, Disease-Modifying Antirheumatic Drugs (DMARD), serta fisioterapi atau operasi untuk memperbaiki deformitas (perubahan  bentuk) yang terjadi.
3. Septic Arthritis
Merupakan peradangan sendi yang dipicu oleh kumanyang menginfeksi bagian tubuh tertentu, masuk ke dalam aliran darah, kemudian masuk ke daerah sendi. Umumnya terjadi pada jaringan sendi yang sudah mengalami kerusakan sebelumnya. Contoh organisme pemicu infeksi antara lain bakteri Staphylococcus aureus, salmonelladan shigella (akibat keracunan atau kontaminasi makanan), chlamydia dan gonorrhea (akibat penyakit menular seksual), dan virus hepatitis B dan C.
Penanganannya ditujukan untuk mengatasi infeksi dan mencegah perkembangan infeksi ke daerah sekitarnya dengan pemberian antibiotik, aspirasi cairan sendi, atau drainase sendi yang terinfeksi.
4. Artritis Pirai (Gout)
Purin adalah substansi alami yang ditemukan di dalam sel tubuh dan dapat diperoleh dari makanan. Purin berperan dalam struktur kimia gen tubuh makhluk hidup. Di dalam tubuh, purin akan dipecah lebih lanjut menjadi asam urat.
Kadar asam urat yang berlebihan di dalam tubuh dapat dikarenakan dua faktor: 1) Produksi yang berlebihan oleh tubuh, dan 2) Gangguan pengeluaran asam urat dari dalam tubuh. Asam urat dapat menumpuk dalam tubuh dan membentuk kristal asam urat pada sendi, sehingga memicu rasa nyeri ketika sendi digerakkan. Apabila kadar asam urat tidak segera diturunkan, dapat timbul penyakit kronik dan kecacatan.
Penanganan ditujukan untuk mengembalikan kadar normal asam urat dengan obat golongan penghambat xantin oksidase (allopurinol) atau obat urikosurik. Untuk mengurangi nyeri dan peradangan, bisa dengan obat antiinflamasi non-steroid dan diet rendah purin.
sumber: klikdokter.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar